Pensil Ajaib

Tuesday, November 30, 2010
Ngomong-ngomong soal yang ajaib-ajaib. Aku ada cerita tentang pensil ajaib. Ini pensil punya teman sebangkuku, panggil saja dia Richa *kasian entar kalo disebut nama aslinya, bisa turun pamor*. Dia membeli benda ajaib itu bersamaan saat aku membeli Nemo. Karena memang saat itu kami perginya bareng-bareng.

Pensil miliknya sangat ajaib. Pensil isi berwarna kuning transparan. Dengan tutup berwarna putih. Dan ada penghapus karet kecil berwarna merah muda di ujung penutupnya. Benda itu terbuat dari plastik. Menerawang, dan sangat mengagumkan.

Saat ujung pensilnya terasa tumpul, kau tak perlu merautnya. Tak perlu mengisikan isi pensil mekanik ke dalamnya. Karena di dalam pensil itu, tersimpan beberapa *apa ya namanya, bentuknya kayak* rudal. Saat kau menggoreskan rudal itu ke kertas, akan tercipta guratan-guratan indah disana.

Karena di ujung rudal itulah terdapat isi pensilnya. Jadi, kalau udah tumpul, tinggal copot dan masukkan ke belakang. Lalu muncul rudal baru yang isi pensilnya masih runcing. Wah, sayang aku nggak punya picnya. Kalo ada, kalian pasti akan takjub sekali!

Tak hanya aku yang dibuat takjub oleh si pensil ajaib itu. Ada adik kelas yang juga terpesona saat melihat pensil kuning nan menawan itu. "Oh, ternyata pensil begini masih dijual? Terakhir aku pake waktu SD deh kayaknya," begitu celoteh si adik kelas nan polos.

Lebih mending dia dikatain pensilnya buat anak SD. Apa kabar aku? Aku dibilangin kotak pensilku buat anak TK. Walaupun sama-sama 'dipuji' kan seenggaknya SD itu satu tingkat lebih tinggi dari TK!

Richa menceritakan ini dengan muka merah padaku. Mukaku juga jadi ikut merah. Merah karena tidak tahan untuk tertawa. Lucu sekali ekspresi dia waktu itu.

Pernah suatu hari, pensil ajaib punya Richa hilang. Dia kalut sekali mencarinya "Pensilku mana? Pensilku mana?" Badan pensilnya menghilang tiba-tiba. Tinggal tutup kuningnya saja yang tersisa. Tersimpan rapi di dalam kotak pensil dia.

Beberapa hari kemudian, dia bercerita padaku kalau dia melihat si pensil ajaib. Pensil ajaib itu sudah ada di tangan teman sekelasku yang lain. Sebut saja namanya Neni.

Richa melihat pensilnya yang dibawa-bawa oleh Neni dengan nanar. Lalu aku bilang ke Richa "Sana bilang ke Neni. Nen, ini tutup pensilnya lupa kamu ambil."